Sabtu, 01 Februari 2014

Oke, aku telat nulis suratnya semalem...

ehm... hei..

ehm... aku tau kau mungkin sebel, karena aku ndak nepatin janji aku sendiri buat ngasih kabar untukmu setiap hari mulai dari awal bulan ini. Tapi.. ayolah... masa' gara-gara aku ndak nulis semalem aja kau langsung diam. Aku lupa. Bukan... bukan lupa kau. Aku cuma lupa nulis suratnya... cuma itu saja. 
Sejujurnya, aku ndak murni lupa. Aku ingat, tapi waktu itu pas sudah menjelang senja. Tak kan ada tukang pos yang lewat, tak kan ada yang mengantar suratku. Lebih dari itu, aku tengah lelah, bahkan untuk sekadar menulis. Pekerjaanku menelan banyak waktuku. Tapi, aku tak lupa kau. 
Surat ini aku tulis larut malam, biar aku tak lupa untuk mengirimnya besok. Aku tak mau kau tambah sebel dan jadinya terbiasa tanpa kabar dariku. Kau tau? aku bahkan lebih ingin mengirimimu surat. aku ingin mengabarimu setiap hari. Aku ingin kau ingat aku setiap waktu. Dan semalam, aku yang merasa berat karena mau tak mau aku harus tak jadi mengirim suratku.

Apa kabarmu? aku yakin kau pasti masih berada di ruang kerjamu meskipun ini hari libur. Sudahlah, istirahatlah lagi. Pergi keluar sana, jalan-jalan sendiri kan tak apa. Menyegarkan pikiran. 

eh... Kau tidak sedang menulis surat untuk gadis lain, kan?

Aku berhenti nulis dulu ya, Sayang, ini Minggu. Ku kira kamu udah tau apa yang aku lakukan hari ini. Nothing special, yang spesial itu kamu  :) 
    

Rabu, 25 Januari 2012

#NP K-Ci &Jojo - All My Life. Repeat. All day long.

All my life
I’ve prayed for someone like you 
And I thank God that I, that I finally found you 
All my life I’ve prayed for someone like you and i hope that you feel the same way too 
Yes, I pray that you do love me too

#NP K-Ci &Jojo - All My Life

Ingat lagu ini? Ya pastilah. Orang kamu yang kasih ke aku kok. 
Dulu aku tertawakan lagu pilihanmu itu. Jadul ,kataku.  Dan Kini, aku kena karmanya :(. Setelah kamu pergi,  aku memutar lagu ini. Berulang ulang.

Cuih banget emang. Aku ngejilat ludah sendiri. Kemakan omongan. 

Lagu ini kan kamu kasih waktu aku habis putus cinta dan curhat ke kamu. Waktu itu kamu cuma senyum. Tumben. Padahal harusnya kamu nyukur nyukurin aku karena gak dengar omongan kamu tentang dia. Aku liat dia gak baik, katamu seminggu yang lalu waktu kucurhatin tentang aku yang suka dia. Aku gak peduliin kamu, karena kupikir kamu aja yang nyinyir. Orang dia udah sesuai ama yang aku cari kok, masa disia-siain. 
Dan hasilnya, belum nyampe seminggu udah putus.

Malam itu aku gak tau apa maksud kamu ngasih vcd jadul ini. Aku nerimanya sambil manyun. Apa deh kamu, gak banget, omelku. Protes karena kamu gak nyambung. Kasih #pukpuk kek, ini malah ngasih vcd bekas kamu. Mana udah baret-baret lagi, keseringan kamu puter kali. 

"Jangan sedih. Dia cuma yang kamu mau, bukan yang kamu butuh. Kamu pasti akan menemukannya" katamu lewat sms setelah mengantarku pulang malam itu.

Dan setelah itu kita tidak bertemu lagi. Liburanmu telah habis, dan kamu kembali ke kota tempat sekolahmu berada. Aku emang sengaja gak kerumahmu pagi itu. Males....hehehe... ampun...>.< 

Tapi ternyata yang terjadi lain. Setelah sebulan ini menghabiskan waktu dengan kamu, aku jadi terbiasa. Gak ada kamu aku gelisah. Gak nyaman. Bingung sendiri. Berat sih ngomongnya, tapi......Iyaaaaaaaaaa aku butuh kamu....hoaaaaaaaa hiks...hiks..

Lagu jelek pilihan kamu ini tanpa sadar aku puter sepanjang hari. Entah mengapa begitu menyindir. Hih!

Aku udah gak betah nih gak ada kamu disini. Aku putuskan buat bikin surat ini. Males ngomong langsung ke kamunya. Kamu pasti bangga dan cengengesan liat aku yang mengaku. Nyebelin ih! Sungguh!
Padahal kan kamu yang diam-diam suka aku duluan... Wuahahaha *lipettangan *angkatdagu  *buangmuka     
(kamu pasti geregetan pengen jitak kepala aku ya kan? bhahahak)

Sekalian aku balikin vcd kamu ini. Aku sudah sadar kok sekarang. Udah ketemu ;p

And I thank God that I, that I finally found you 

#NP K-Ci &Jojo - All My Life. Repeat. All day long.



ps: surat ini seharusnya aku kirim 2 tahun yang lalu. tapi biarin ah... aku baru menemukan VCD yang sama sekarang. Jadi punyamu baru bisa kubalikin sekarang :D   

Senin, 23 Januari 2012

Solo, aku pengen nikah

Surat untuk kota,
Pagi yang cerah saat aku harus mengingat kamu, kota.

Solo.
Apa kabar?
Tetap menyenangkan kan? Pastinya itu haha.
Kau tau betapa aku merindukanmu? Sangat merindukanmu. Aneh memang. Kita bahkan belum pernah bertemu. Kau tidak pernah mengenalku sebelumnya. Dan aku hanya mengetahui kau dari televisi. Tapi itulah, aku mencintaimu. Udah mentok di kamu. Solo. Satu kata untukmu, nyaman. 

Aku tidak perlu Paris, Jepang atau Amerika. Yang aku mau hanya kau. Sumpah, ini tidak gombal.

Akan kuceritakan padamu mengapa aku mengagumimu. Kuharap kau kan tersipu malu membacanya dan mengundangku untuk mengunjungimu. Amin. 

Aku adalah orang yang mencintai kelembutan, dan kau berbudaya halus. Aku mencintai ketenangan, dan kau damai. Aku mencintai persahabatan, dan kau sangat ramah. Aku mencintai keanggunan, dan kau bersahaja. Aku mencintai keindahan, dan kau cantik. Semua itu. Ya, walaupun aku hanya melihatnya dari media elektronik saja. Tapi hati dan khayalku bekerja sehingga dapat kudengar suara musik tradisional itu, kusimak suara medok nan lembut itu, kuseruput wedang nan hangat itu, ku icip nikmatnya jajanan pasar yang manis, ku kenakan batik yang cantik, dan ku bebaskan pandanganku menatap indahnya tempat-tempat di kota yang berbudaya itu. Ah, aku semakin ingin mendatangimu.... Yakinlah, ini tidak gombal.

Satu hal terpenting yang paling membuatku mentok, tak berpaling dan "kelepek kelepek" adalah keraton. Adatnya. Kolotnya. Dan adalah pernikahannya. Pertama kali aku melihat langsung membuatku jatuh cinta. Aku takjub melihat budaya itu. Begitu sakral dan cantik. Kesederhanaan yang megah. Penuh makna dan harapan. Sungguh romantis. 
Dan untuk pertama kalinya aku berani mengatakan kepada orangtuaku "Pak, Mak, Aku pengen nikah. Seperti itu" ujarku sambil menunjuk televisi. 
Sontak tertawalah mereka "Kamu orang Sumatera, Nak. Dan hey... Apa kamu sudah gila? Baru saja seminggu yang lalu kamu memakai seragam putih abu-abu". 

Tapi ya mau gimana, aku sudah terlanjur naksir. Kuceritakan semua keinginanku pada teman-teman sekelasku. Kupikir karena kami seumuran, mereka pasti mengerti. Tapi ternyata mereka hanya geleng-geleng sambil meraba dahiku. Mungkin mereka pikir aku sedang tidak waras. Huh, dasar anak umur 15 tahun. Ingusan,  Gak dewasa!!   

Dan akhirnya aku harus terpaksa menyimpan dulu sendiri keinginanku itu sampai ada yang akan mengerti. Aku mencari tau segala tentang Solo sendiri. Aku hanya berkoar-koar kalau aku menyukai Solo dan keratonnya dan aku ingin kesana. Mereka percaya karena wajar saja kalau orang seperti ku ini ingin menjelajah kesegala tempat. Padahal yang aku tuju tidak hanya sekedar wisata saja. Tetapi menikah ala keraton. Haha... ngimpi emang, tapi wajar dong kalo anak gadis punya khayalan bertemu dan menikah  dengan pangeran. Dan dalam kisahku ini adalah Pangeran Keraton Solo. Dan aku akan menjadi Putri Keraton...wuakakakakkak ...ups.. Putri Keraton nggak boleh ngakak ya, hehehe lupa. 

Kini aku telah beranjak dewasa. Aku telah berani menceritakan lagi impianku mengenai "keraton wedding" itu, dan orang yang mendengarnya kini tersenyum dan mengangguk mengizinkan khayalanku. Bagi mereka tak apalah aku bermimpi, toh meskipun agak mustahil menikah dengan putera keraton, aku masih punya kemungkinan kok menikah dengan putera asli daerah Solo.hihihi... 

Maka dari itu Solo, kukirim surat padamu.... Jika masih ada tersisa puteranya Sultan Solo, kasih aku satu...
Kita kan teman, :D ya ya ya ya ya....pleaseeeeeeee. Aku pengen nikah X))

Salam hangat, dari yang belum pernah mengunjungimu dan AKAN segera mengunjungimu.


Dwi Ratih Cipta Pratiwi


Minggu, 22 Januari 2012

Kamu, yang kayak barongsai

22 Januari 2011 pukul 22.00 WIB

Suara gong bersahutan-sahutan diiringi sorak gembira para penikmat keramaian 

Aku duduk menepi di taman kota. Sengaja aku datang duluan tadi agar ku peroleh tempat paling pewe. Dibawah pohon rindang di kursi panjang ini. Tempat sama yang kita incar tahun lalu dan tak kita tinggal beranjak sampai malam larut.

Kamu pasti lagi di taman juga kan? di taman kota yang berbeda. Tapi kita menonoton hal yang sama kok, perayaan imlek.   

Suasana perayaan ini selalu mengingatkan aku padamu. Bukan, kamu bukan cina. Kulitmu tak putih dan matamu tak sipit. Kamu hanya menikmati budaya dan kamulah yang memperkenalkannya padaku. 
Imlek tahun lalu kamu mengajakku untuk melihat perayaan ini. Aku yang tak tau apa-apa ini ikut saja. Kan kamu yang ajak, mana bisa aku tolak ;p.

Kamu masih suka barongsai kah? ingat gak, pas pertama kali liat barongsai aku kaget, ketakutan. Tapi beberapa detik kemudian, tiba-tiba aku jadi suka. Plin plan emang. Tapi itu karena kamu gombalin "Liat aja ekornya, lucu menggal menggol. Lagian, ngapain kamu takut, kan ada Aku" katamu. Hoekk, kalau ingat itu sekarang pengen kutoyor kamu. Basi banget. Dan aku bego banget X)

Oya, sudah tau apa makna dibalik barongsai? Dulu kan kamu belum menjelaskannya padaku. "Aku belum tahu filosofinya" katamu. Tapi tetap kau jelaskan semuanya dari sudut pandangmu sendiri. Dan aku percaya semua itu benar, meski aku tidak tahu apa memang benar. Tak apalah salah, kan kita bukan cina. Yang aku tahu, semua yang keluar dari pikiranmu selalu menarik. Kamu begitu cerdas. Sorot mata berbinar saat kamu membagi pendapatmu begitu menggemaskan. Dan semangat penuh keriangan saat kamu menceritakan pengetahuan yang kamu peroleh begitu membuatku betah. Kamu menceritakannya dengan ringan tanpa bermaksud menggurui. Kamu adalah belajar dan pelajaran yang paling ku favoritkan. Kamu adalah guru yang paling aku cintai. Seandainya kamu adalah sekolah, aku tidak mau lulus agar bisa terus memetik ilmu-ilmu tak terduga yang selalu kamu bagikan. Ah, betapa aku rindu kecerdasanmu itu, wahai remaja pintar.

Kamu sekarang pasti sedang cekikikan melihat barongsai-barongsai itu bergerak lincah. "Barongsainya lucu kayak kamu" pernah kamu bilang. Entahlah apa aku separah itu sampai kamu samakan dengan barongsai. Kulihat barongsai itu seram. Yang pasti, hanya kamu orang yang cekikikan di tengah decak kekaguman orang lain. Dan saat aku tanya mengapa, kamu jawab " Ia lincah, berwarna, penuh semangat, riang dan menyenangkan hatiku"  

Malam itu ingin sekali aku katakan " Kalau begitu, berarti kamu yang kayak barongsai"   

Hey kamu, bersama surat ini aku cuma mau bilang bahwa kita memang berjauhan, tapi malam ini kita masih begitu romantis. Kita menonton perayaan yang sama dan mengakhiri malam kita dengan menikmati kembang api sampai larut malam, di langit yang sama.


Salam ramai penuh warna.  


ps: sengaja ku masukkan surat ini kedalam amplop merah. Biar kamu sangka angpao. Menipumu sedikit tak apalah ya hahah ;p

Sabtu, 21 Januari 2012

Heh! Gelangku rindu, nih

Duduk dipantai ini. Menatap jauh ke depan. Mencari kamu di hembusan angin, dan kudapati kamu di pikiranku.

Hai, aku sendiri disini. Kamu sama siapa?

Weekend ini aku jalan-jalan sebentar. Nanti sore juga akan pulang. Kamu pasti tau aku kemana. Jangan kamu tuduh ini tempat untuk mengingat kamu. Sorry ya :p. 

Disini ramai, tapi aku tetap dapat menikmati senyapnya dalam damai. Kita memang berjauhan sekarang. Tapi kamu ada di otakku. Dan itu membuat aku merasa kita dekat.  

Tak jauh dariku, ada mas-mas penjual gelang berambut acak acakan. Kamu ingat dia kan? pakaiannya persis seperti saat kita bertemu ia 4 bulan yang lalu. Dagangannya juga sama. Rambutnya juga, haha. Tadi ia menawarkan gelang untukku. Aku menanggapinya hanya dengan tersenyum sembari mengangkat tangan kiriku. Dan berlalulah ia sembari nyengir. Iya, ini gelang yang kita beli dulu. Gelang pasangan. Aku membeli untukmu dan kamu membeli untukku. Ada namamu terukir di gelang yang kupakai dan ada namaku yang tertulis dalam ukuran kecil digelang yang kamu pakai karena aku ngotot untuk tetap memakai nama panjangku. Hahah, aku ingat kita bertengkar karena itu, dan akhirnya kamu mengalah karena aku mengancam akan menulis nama personil boyband Sm*sh di gelangku jika kamu tidak setuju aku mengukir nama panjangku. Gak penting banget ya kita.  

Gelang ini masih melingkar manis di pergelangan tangan kiriku, meski agak memudar warnanya. Gimana kabar gelangmu? dan...ehm... kabar kamu deh sekalian. Hey boy, gelangku ini sering mengenang gelang di tanganmu itu. Lama ia tak bergandeng dengan pasangannya. Kapan kamu pertemukan mereka? Ia begitu rindu. Eh! kuperjelas ya, gelangku yang rindu, bukan aku pokoknya. 

Angin sudah berhembus kencang, kertasku bertebaran, aku pungut dulu ya.  Aku tidak bisa menulis lagi. Nanti saja kusambung lagi sampai aku menemukan tempat nyaman untuk  menulis... 


Salam hangat dari pemakai gelangmu. 


ps: Jangan kamu pamerkan gelang itu ke teman-temanmu. Aku malu

Jumat, 20 Januari 2012

Kini, Kubiarkan mengalir

Selamat pagi yang hujan, hujan.

Aku menunggu kamu. Jika aku baik untukmu. Dan kamu baik untukku. 

Seseorang berkata padaku :
Tuhan setuju, yang baik baik akan datang padaku dan kamu sesuai kesabaranku & kamu. 

Aku telah memutuskan untuk berdamai dengan hatiku. Kini aku dan hatiku bersahabat baik. Dan karena ia baik, kini harikupun menjadi baik pula. Aku memutuskan untuk tak menahan perasaan untukmu, tapi tak berarti kubunuh pula perasaan itu. Aku hanya membiarkan ia apa adanya. Tanpa bermaksud mengusiknya, dan sebaliknya ia pun tak mengusik pikiranku kini. Sekarang setiap aku mengenang kamu, yang ada hanya tenang dan indah, tak lagi gerah dan risau. Semuanya jadi manis dan baik ternyata.

Aku telah meyakini bahwa biarlah Tuhan menentukan jalannya. Nikmati saja. Jika memang kamu, siapa yang bisa menyangkal? dan jika bukan kamu, siapa yang mampu protes?. Tinggal aku yang berdoa, agar tuhan memantaskan aku berada di hidupmu,di dekatmu sebagai apapun itu, yang baik semoga. 

Dan kamu tau, apa yang terjadi? Disaat aku telah melapangkan hatiku, ikhlas dan optimis, Tuhan begitu baik. Setelah sekian lama dalam diam, semalam ia telah memberikan jalan untukku memperbaiki hubungan denganmu. Ia mengarahkan jalanku untuk memberikan sapaan kecil padamu. Dan menggerakkan hatimu untuk membalas dengan senyuman. Kalimat itu begitu mungil, namun tak menyurutkan riangku yang meluap luap. Aku bersyukur, Tuhan. 

Kini aku tau, semua tergantung aku. Aku bersabar menunggumu selama ini dan kesabaranku hanya akan sia-sia tanpa aku melakukan yang baik agar ia menjadi baik. Aku hanya perlu berpikir positif dan mudahlah langkahku. Yang harus aku lakukan adalah BERUSAHA berbuat baik, tidak hanya untuk kamu tapi untuk aku dan untuk semuanya setiap hari agar aku menjadi yang baik. Dan Tuhan yang akan membalas semuanya. Bukankah yang baik pantas mendapat yang baik juga?

Kubiarkan cinta ini dihati. Jika ia memang bisa tumbuh, ia akan tumbuh dan berbuah dengan indahnya. Tapi jika ia harus mati, ia akan menutup mata dengan tenang karena bersyukur telah menikmati hidupnya.

Salam diiringi hujan, kamu hujan yang selau aku sukai

suratku tak kaleng

Menulis surat cinta,
Hari ini surat kaleng
Aku menyukai proyek ini. Apalagi melihat binar para pelakunya. It so fun. Or romantic for some people, yeah who know?
Tapi aku tidak akan ikut. Bukan, bukan karena aku tidak memiliki seorang spesial yang kukagumi secara diam-diam. Aku punya. Dan dia spesial.
Aku hanya merasa tidak perlu. Setidaknya di otak dan hatiku. 
Sebuah kesia-siaan yang disengaja bagiku. 
Menulis surat kaleng hanya akan mengganggunya. Syukur, jika ia tersentuh, berterima kasih karena punya pengagum, hanya itu. Tetapi kalau itu sampai membuat ia penasaran dan mencari siapa pengirimnya, itu yang aku tidak sanggup. Aku tidak tahan meronta ronta dalam hati berteriak "aku orangnya". Aku tidak tahan untuk melihat ternyata ia senang menerima surat itu dan aku hanya bersembunyi memantaunya. Lebih baik dia tau siapa yang menyukainya. 

Tapi aku tak mampu untuk mengirim surat secara terang terangan kepadanya. Memang aku pengecut, terlalu malu. Oke, aku tidak punya keberanian. Iya, aku tidak bernyali.
Aku lebih senang menulis surat di blog secara no-mention untuknya. Ia membaca hanyalah sebuah kebetulan yang manis. Aku hanya ingin meluapkan perasaanku saja. Karena aku hanya mencintainya. Itu saja. Tidak lebih.

Suratku tidak kaleng. Hanya tak bertuliskan untuk siapa. Nama penerima ada dihatiku. Dan jika memang layak, sang penerima akan mendapati surat itu sampai dihatinya.